Lantunan Ayat Suci Al-Qur’an yang Mulai Terdengar di Pulau Dewata, Bali

Bali, provinsi yang ibu kotanya bernama Denpasar itu sudah terkenal bahkan di seluruh dunia. Keindahan alam yang mempesona selalu berhasil menyihir pelancong manapun yang singah di Pulau Dewata, julukannya.

Jika pertama kali menginjakkan kaki di sana, salah satu tempat yang paling dicari adalah Pantai Kuta. Ya, Kuta memang sudah menjadi lokasi wisata tersohor di Bali. Pantainya yang indah dipandang memiliki daya tarik yang luar biasa.

Selain potensi daerah wisatanya, Bali juga terkenal dengan kesenian dan budayanya yang unik dan menarik. Belum ke Bali rasanya jika belum melihat tarian khas mereka yaitu Tari Kecak. Maka, tak berlebihan jika menyebut Bali sebagai primadona wisata Indonesia.

Bali memang kental dengan agama Hindu. Betapa tidak, 83,56% dari 4,3 juta penduduk Bali merupakan pemeluk agama Hindu. Sedangkan Islam hanya 13,37 % diantaranya saja.

Angka yang cukup kecil itu tidak membuat cahaya Islam redup di Bali. Justru, hal ini menjadi pemicu semangat bagi salah seorang guru saya bernama Ustadz Khalid Bin Walid untuk mensyiarkan agama Islam. Ustadz Khalid, saya memanggilnya, adalah seorang guru yang saya kenal lewat wasilah lembaga sosial dan kemanusiaan yang sampai saat ini menjadi tempat saya berkhidmat.

Ustadz Khalid adalah lelaki asal Situbondo, Jawa Timur yang telah menetap di Bali, tepatnya di Desa Patas, Kecamatan Grogra, Kabupaten Buleleng, sejak 2018 silam. Awalnya, mantan guru sekolah dasar itu berkelana ke Bali demi menyambung hidup dan mencari pekerjaan guna menafkahi keluarganya.

Namun, di tengah perjalanan Allah mentakdirkan ia untuk menjadi marbot di sebuah mushola. Marbot sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menyebut orang yang bertanggung jawab mengurus mushola atau masjid.

Kala itu, awal tahun 2020, Ustadz Khalid bercerita bahwa dirinya memberanikan diri untuk mendirikan rumah tahfidz atau tempat belajar Al-Qur’an di mushola tempatnya mengabdi. Rumah tahfidz yang ia dirikan pada Maret 2019 lalu diberi nama Rumah Tahfidz Nurul Qur’an.

Kisahnya pun dimulai. Awal berdiri, Rumah Tahfidz Nurul Qur’an dibawah asuhan Ustadz Khalid hanya memiliki 16 santri. Mereka adalah anak-anak dari sekitar rumah tahfidz yang kerap ke datang ke mushola untuk melaksanakan sholat.

Setiap hari mereka dikenalkan dengan Al-Qur’an oleh Ustadz Khalid. Perlahan, hati mereka pun luluh dan lembut. Anak-anak pun mulai belajar Iqra (salah satuu metode belajar Al-Qur’an) sesuai kemampuannya masing-masing.

Ustadz Khalid semakin bersemangat. Berbagai inovasi pun ia lakukan agar anak-anak betah berada di mushola dan mengaji bersamanya. Jiwa petarungnya pun diuji. Ia tak jarang menerima santri yang memiliki tingkah laku “nyleneh”. Namun, ia tahu, misinya sangat mulia, yaitu Al-Qur’an.

Alhamdulillah, atas izin Allah dan dukungan orang tua para santri, kini sudah ada lebih dari 40 santri yang belajar Al-Qur’an di Nurul Qur’an. Mereka belajar tajwid, tahfidz, tilawah, kitab kuning hingga hadroh.

Pelan tapi pasti, santri-santrinya mulai bisa membaca Al-Qur’an dan beranjak menghafalkannya. Kesabaran dan ketekunan Ustadz Khalid-lah yang menurut saya menjadi salah satu kunci suksesnya mendirikan rumah tahfdz di Bali yang nobatene wilayah dengan muslim minoritas.

Pagi, siang, sore hingga malam Ustadz Khalid membiasakan santrinya untuk membaca Al-Qur’an. Lantunan ayat-ayat suci pun mulai menggema di Bali. Mendayu-dayu, mengisi kekosongan yang selama ini belum pernah ada.

Ustadz Khalid berharap bertumbuhnya tempat belajar Al-Qur’an di Bali akan mengawali syiar dakwah Islam di Pulau Seribu Pura itu. Bukan untuk menjadi pesaing kepercayaan sebelumnya, justru agar menjadi cermin dari kalimat sakti yang menjadi semboyan Republik Indonesia, “Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu juga, yakni Indonesia.

Oleh: Diyo Suroso

1 comment

  1. MasyaAllah, semoga bermanfaat. InsyaAllah kisah ini berkelanjutan

Tinggalkan Balasan