Sepotong Kisah dari Sebatik

“Pertama kali sampai, ini seperti di tengah hutan. Di mana-mana hanya ada pohon sawit, jarang sekali saya temukan rumah,” tutur Ustadz Muhammad Ilham memulai ceritanya.

Ia adalah Assatidz Daarul Qur’an yang mengemban amanah untuk berdakwah di Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Utara. Sejak 8 Agustus tahun lalu, lelaki yang akrab dipanggil Ustadz Ilham ini telah memulai perjalanan syi’arnya.

Pandangan pertamanya mengenai pulau di ujung Indonesia ini, menegaskan bahwa ia memulai dakwah dengan segudang keterbatasan. Mulai dari listrik yang selalu mendapat giliran padam setiap harinya, hingga masyarakat yang belum terbiasa berinteraksi dengan Alqur’an.

“Saya memulai dengan mengajar Fiqih, Tahsin dan berlanjut ke Tahfizh. Terus terang, anak-anaklah yang lebih tertarik dan antusias mengikuti metode yang saya ajarkan,” ujarnya.

Saat ini, tercatat ada 22 anak yang mukim di sekolah, dari total 45 muridnya. Alhamdulillah, ia tidak sendiri, ada dua guru lain yang membersamainya, bahkan istrinya pun kadang turut mengajar.

Ketika pelajaran di dalam kelas sudah mulai membosankan bagi anak didiknya. Maka, ia pun berinisiatif mengajak mereka untuk belajar di tepian laut.

“Ada salah satu siswa saya, namanya Rustam, usianya 14 tahun dan yatim piatu. Alhamdulillah, dia sudah mengahafal satu juz. Bahkan, ia selalu ingin mendampingi saya sekaligus meneruskan hafalannya,” jelasnya semangat.

Dirinya sangat mengapresiasi gelora anak-anak di pulau ini. Harapnya, perhatian masyarakat akan pentingnya pengetahuan agama dapat meningkat seiring jengkal demi jengkal perjuangannya.

Diyo Suroso untuk PPPA Daarul Qur’an – 27 Juli 2018

Tinggalkan Balasan